1. Jelaskan perbedaan dari media belajar, sumber belajar dan alat peraga !
a. Media Belajar
Media
pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyalurkan informasi dari guru kepada siswa dalam rangka untuk
merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kepentingan siswa dan
akhirnya membuat kegiatan belajar siswa.
http://lugra-migwars.blogspot.com/2011/07/blog-dan-pemanfaatan-sebagai-media.html
b. Sumber Belajar
Pengertian sumber belajar adalah segala hal yang dapat digunakan untuk membantu proses belajar mengajar
sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar.
(http://www.scribd.com/doc/31770587/5/Pengertian-Sumber-Belajar).
c. Alat peraga :
1) Barang cetak, seperti kurikulum, buku pelajaran, Koran, majalah dan lain-lain
2) Tempat, seperti: Sekolah, perpustakaan, Museum dan lain-lain
3) Orang/Narasumber, Seperti: Guru/pendidik, tokoh masyarakat dan lain-lain.
http://blog.umy.ac.id/nawawi/2012/01/16/sumber-sumber-bahan-ajar-dan-alat-pelajaran/
2. Jelaskan teori Edgar Dale (kerucut pengalaman) dan kaitkan dengan media pembelajaran !
Edgar Dale melukiskan dalam sebuah kerucut yang kemudian dinamakan Kerucut Pengalaman Edgar Dale (Edgar Dale cone of experience). Kerucut pengalaman ini dianut secara luas untuk menentukan alat bantu atau media apa yang sesuai agar siswa memperoleh pengalaman belajar secara mudah. Kerucut pengalaman yang dikemukakan oleh Edgar Dale itu memberikan gambaran bahwa pengalaman belajar yang diperoleh siswa dapat melalui proses perbuatan atau mengalami sendiri apa yang dipelajari, proses mengamati, dan mendengarkan melalui media tertentu dan proses mendengarkan melalui bahasa. Contohnya melalui pengalaman langsung, maka semakin banyaklah pengalaman yang diperolehnya. Sebaliknya semakin abstrak siswa memperoleh pengalaman, contohnya hanya mengandalkan bahasa verbal, maka semakin sedikit pengalaman yang akan diperoleh siswa. (Wina Sanjaya, 2008:165).
- Penglaman melalui lambang verbal, merupakan pengalaman yang sifatnya lebih abstrak. Sebab, siswa memperoleh pengalamanhanya melalui bahasa baik lisan maupun tulisan. Oleh seab itu, sebaiknya penggunaan bahasa verbal harus disetai dengan penggunaan media lain.
- Pengalaman melalui lambang-lambang visual seperti grafik, gambar, dan bagan. Sebagai alat komunikasi lambang visual dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada siswa. Siswa lebih dapat memahami berbagai perkembngan atau struktur melalui bagan dan lambing visual lainnya.
- Penglaaman melalui radio, tape recorder dan gambar. Pengalaman melalui media ini sifatnya lebih abstrak dibandingkan pengalaman melalui gambar hidup sebab hanya mengadalkan salah satu indra saja yaitu indra pendengaran atau indra penglihatan saja.
- Pengalamann melaui gambar hidup dan film. Gambar hidup atau film merupakan rangkaian gambar mati yang diproyaksikan pada layer dengan kecepatan tertentu. Dengan mengamati film siswa dapat belajar sendiri, walaupun ahan belajarnya terbatas sesuai dengan naskah yang disusun.
- Penglaman melalui televisi merupakan pengalaman tidak langsung, sebab televisi merupakan perantara. Melalui televisi siswa dapat menyaksikan erbagai peristiwa yang ditayangkan dari jarak jauh sesuai dengan program yang dirancang.
- Pengalaman melalui pameran adalah usaha untuk menunjukkan hasil karya. Melalui pemeran siswa dapat mengamati hal-hal yang ingin dipelajari seperti karya seni baik seni tulis, modern dengan berbagai ceara kerjanya.pemeran lebih abstrak sifatnya dibandingkan dengan wisata.
- Pengalaman wisata, yaitu pengalaman yang diperoleh melalui kunjungan siswa ke suatu objek yang ingin dipelajari melalui wisata siswa dapat mengamati secara langsung, mencatat, dan bertannya tentang hal-hal yang dikunjungi.
- Pengalaman melalui demonstrasi adalah teknik penyampaian informasi melalui peragaan.
- Pengalaman melalui drama, yaitu penglaaman yang diperoleh dari kondisi dan situasi yang diciptakan melalui drama (peragaan) dengan menggunakan scenario yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
- Pengalaman langsung merupakan pengalaman yang diperoleh siswa sebagai hasil dari aktivitas sendiri. Siswa mengalami, pencapaian tujuan. Siswa berhubungan langsung dengan objek yang hendak dipelajaritanpa menggunakan perantara
Sumber : http://arisandi.com/pentingnya-media-pembelajaran/
3. Bagaimana proses pembelajaran bagi masyarakat Indonesia di daerah tertinggal ?
Pembangunan pendidikan di daerah harus bersifat adil, partisipatif dan terintegrasi, sehingga kesenjangan mutu yang ada saat ini dapat diatasi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Tetapi dapat dipahami bahwa kondisi geografis ternyata menjadi salah satu penghambat ketercapaian akses dan pemerataan pendidikan. Kesenjangan akses pendidikan antara desa dan kota atau daerah terpencil dengan daerah perkotaan merupakan salah satu penyebab tidak meratanya mutu pendidikan. Guru yang tinggal di daerah perkotaan mendapat akses yang lebih baik terhadap hal-hal yang berhubungan dengan peningkatan mutu guru seperti informasi dan fasilitasi pendidikan, sementara guru di pedalaman atau bahkan di daerah terpencil tidak seberuntung itu.
Untuk mendukung program pembangunan dalam rangka percepatan pemenuhan akses dan pemerataan mutu pendidikan, ada beberapa program strategis yang seharusnya kita lakukan bersama, baik antara pemerintah, pemerintah daerah, dan stakeholders pendidikan lainnya. Dengan meng-GARAP pembangunan pendidikan di daerah tertinggal diharapkan sinergis dengan pencapaian dan pemenuhan hak masyarakat dalam mengenyam pendidikan yang berkualitas.
Program GARAP yang dimaksud di sini adalah akronim dari Gateway, Acceleration, Rearrangement, Accessibility, dan Professional Teacher.
- Pertama; Gateway (kemitraan). Penguatan kemitraan di tingkat sekolah dalam rangka pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas diperankan oleh kepala sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua dengan masyarakat atau dunia usaha
- Kedua; Acceleration (Percepatan). Dengan kondisi geografis yang cukup sulit, tentu saja akses informasi dan implementasi program kerja pendidikan akan terhambat.Untuk itu harus dilakukan akselerasi distribusi informasi dan pendampingan secara maksimal berbagai upaya percepatan pembangunan kualitas pendidikan di daerah.
- Ketiga; Rearrangement (Penyusunan kembali pola penempatan guru). Salah satu penyebab lambatnya perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah pedalaman atau pelosok adalah kesenjangan tenaga pendidik. Kesenjangan ini tidak saja dari sisi kuantitas namun juga diperparah dari sisi kualitas pendidik. Solusi yang efektif dalam mengatasi permasalahan ini adalah pemerataan penyebaran guru di daerah-daerah pelosok atau pedalaman.
- Keempat; Accessibility (Aksesibilitas). Untuk dapat berhasil dalam proses pembangunan setiap daerah memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas, demi tercapainya sumber daya manusia yang berkualitas tersebut diperlukan upaya-upaya untuk mempermudah akses pendidikan.
- Kelima; Proffesional teacher. Lemah dan lambatnya upaya peningkatan mutu pendidikan salah satunya disebabkan oleh ketidak-profesionalan guru. Padahal kedudukan guru sebagai tenaga profesional berperan sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan. Guru sebagai ujung tombak dalam proses pencerdasan dan pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas harus membangun penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas pula.
